Senin, 09 Maret 2009

Mengenal ALLAH Lewat FISIKA




Blog Entry
IRMAN MOPAS

Mengenal Tuhan Lewat Fisika

Dalam posting “Tuhan Ada Dimana ?” saya menuliskan tentang proses bagaimana saya bisa memahami alasan yang meyangkut soal eksistensi Tuhan. Ada banyak cara bagaimana akhirnya seseorang paham tentang keberadaan Tuhan.


Saya pribadi lebih menyukai pendekatan ilmiah. Bagi saya, Tuhan bisa dipahami lewat sains, dan mungkin itu merupakan cara terbaik ketimbang sekedar menerima apa yang dibawa oleh orang tua kita, atau yang diajarkan guru-guru kita disekolah (sepertinya sistem pendidikan yang ada memang harus dibongkar total !).


Misalnya soal keberadaan ruh. Sebelumnya sulit bagaimana memahami ruh dan membuktikan keberadaannya meskipun kini neuroscience mulai bisa menerangkan fenomena ini dengan cara yang lebih indah daripada apa yang biasa diucapkan para ustadz dalam ceramah mereka dengan mengatakan “hal itu bisa terjadi karena kehendak atau atas izin Tuhan”. Saya selalu membenci alasan seperti ini.


Ambil saja contoh dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana manusia bisa hidup dan melakukan aktifitasnya. Bagi orang yang tak percaya Tuhan, ini semua disimpulkan sebagai osilasi harmoni. Lahir dan mati adalah bagian dari osilasi itu. Susunan quark dalam proton, susunan proton dalam atom, susunan atom dalam molekul kristal, semuanya penuh keteraturan. Begitu juga dengan peredaran tata surya dan pengembangan alam semesta yang serba teratur. Semuanya adalah bagian dari osilasi harmoni tersebut. Alam semesta memang ada dan sudah teratur, tidak perlu lagi ada yang mengatur. Saya juga membenci argumen seperti ini. Bukankah alasan seperti ini justru melecehkan inelektualitas kita sebagai mahluk yang dikaruniai akal ?


Sebagai mahluk yang diberikan kemampuan berpikir, kenapa kita harus pasrah dan menerima semua kinerja alam semesta sebagai isolasi harmoni. Tak heran kenapa “Iqra” (bacalah) menjadi ayat Al-qur’an yang pertama kali turun. Kita diperintahkan untuk membaca, belajar, melakukan penilitian, menggali ilmu, atau dengan kata lain, kita diperintahkan untuk berpikir !


Coba kita lihat bagaimana manusia bisa berdiri dengan tegak. Kita menerimanya sebagai hal biasa. Pernahkah kita sadari bahwa kebisaan manusia untuk berdiri dengan tegak sesungguhnya secara fisika tidak dimungkinkan.


Penjelasan yang pernah saya baca seperti ini; Secara ilmiah manusia bisa berdiri dengan tegak dan gagah karena tulang punggung. Pusat massa manusia berada di sekitar dada. Engsel kaki yang menghubungkan telapak kaki dengan lengan kaki juga jauh dari struktur kesimbangan. Saya mungkin perlu tambahkan juga – dari sudut pandang orang awam - peran gravitasi bumi pasti punya andil. Semakin tidak mungkin manusia dapat berdiri dengan tegak.


Ada yang bilang bahwa manusia adalah bagian dari “kesetimbangan terbalik”. Namun konsep ini sendiri melibatkan gerak. Sementara manusia masih bisa berdiri seimbang tanpa harus berlari. Susunan tulang punggung kita memang memungkinkan manusia bisa berdiri tegak, karena juga dibantu oleh saraf-saraf motorik keseimbangan, yang diatur oleh otak belakang manusia. Namun saraf-saraf itu juga dimiliki oleh hampir semua mahluk berjalan dimuka bumi ini.


Sebagai ilustrasi, coba berdirikan manusia yang sudah mati ! Mayat tersebut seharusnya bisa berdiri, karena mayat juga memiliki pusat massa di dada, dengan engsel kaki yang sama, punya tulang belakang, juga saraf-saraf motorik kesetimbangan. Apakah dia masih bisa berdiri tegak seperti manusia lain yang masih hidup? Saraf-saraf pada tubuh orang mati sudah tidak berfungsi ! Lalu kenapa tidak berfungsi ? Karena ada sesutu yang hilang ! Sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan dengan sempurna oleh fisika, maupun biologi. Sesuatu itu adalah ruh.


Untuk pembahasan lebih jauh tentang ruh, sepertinya neuroscience, salah satu perluasan bilogi bisa menggambarkannya lebih baik. Silakan cari VCD Brain Story keluaran BBC. Kalau ada yang suka nonton serial Heroes, disitu ada ucapan DR Suresh yang bisa dikutip. Ia mengatakan “Scientist believes, if spirit does exist, it exist in the brain”. Atau silakan bongkar salah satu karya Harun Yahya yang berjudul “Bukti keberadaan ruh”. Kalau masih kurang puas, kulik aja tulisan-tulisannya Susan Greenfield, seorang professor ahli saraf otak yang telah menghabiskan waktunya untuk meneliti cara kerja otak. Dengan tanda-tanda itu, lebih mudah bagi saya untuk mengatakan bahwa Tuhan itu ada.

Prev: Volvo Semakin Agresif dengan Komunikasi Online Interaktif
Next: FW: Catatan dari Malaysia] Lima Puluh Tahun Terang Bulan Terbarai - By:Hishamuddin Rais

Tidak ada komentar:

Posting Komentar