| Oleh : Irman iktisab Beruntunglah kita yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT atau mungkin secara kebetulan telah memilih Islam menjadi pedoman hidup (Al-Hajj : 78), karena faktor sesorang memilih agama yang dianut nya disebabkan atas apa yang dianut oleh kedua orang-tuanya atau berasal dari kesadaran individu itu sendiri yang biasa kita namakan Hidayah. “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka dialah orang yang merugi”(Al-A’raf :178) Kita meyakini secara fitrah bahwa apa yang ada dimuka bumi ini tidak begitu saja ada, namun ada suatu Dzat yang menciptakan dan mengatur itu semua. Begitu juga dengan penciptaan manusia, yang sudah barang tentu ada hal yang melatarbelakangi atas penciptaannya. Dalam Al-qur’an jelas sekali bahwa ada tugas besar yang diemban oleh manusia yang merupakan misi makhluk mulia, misi para nabi dan misi yang menjadikan penentu atas dua pilihan diakhirat ”Syurga dan Neraka”. Tugas pertama, yang diberikan Allah pada manusia adalah beribadah pada-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam surat Adz-Dzariyat : 56 bahwa “Sesungguhnya, tidak Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku”. Dalam surat Al-Baqarah : 208 “ Masuklah kamu kedalam Islam secara kaaffah(Keseluruhan)..” Jelas sekali ibadah adalah tugas hidup manusia dan juga ibadah yang dimaksud mengandung unsur seluruh aspek pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Bukan memisah-misahkan antara ibadah dengan bisnis, ibadah dengan organisasi dan lain-lain. Namun kebanyakan dari kita (baca : manusia) memisah-misahkan hal tersebut. Latar belakang kenapa paradigma ini muncul, salah satunya adalah ketidak-tahuan akan Islam atau ke-engganan kita untuk mempelajari Islam itu sendiri. Julukan muslim KTP atau Muslim Pekanan atau bahkan Muslim Tahunan sering kita temui pada masyarakat Islam saat ini, bahkan juga ada sebagian Umat Islam yang menafikan bahwa ibadah itu hanya sebatas zikir, sholat dan puasa saja. Tugas kedua, yang di emban oleh manusia adalah sebagai seorang Khalifah (pemimpin), sebagaimana termaktub dalam surat Al-baqarah : 30, bahwa “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi....”. Pemimpin (khalifah) atas suatu negara, pemimpin umat, pemimpin suatu masyarakat, pemimpin atas keluarga, dan pemimpin diri sendiri. Tugas kepemimpinan ini tidak begitu saja bisa dilakukan seorang diri, namun dia mesti dilakukan secara kolektif (berjama’ah). Jama’ah yang mengandung makna organisasi merupakan suatu keniscayaan dalam mengemban tugas berat ini. Karena dengan adanya jama’ah (organisasi Islam) nilai ukhuwah (persaudaraan), nilai saling bertausiyah (mengingatkan), nilai saling melengkapi akan dirasakan bahkan kebersamaan ini akan mengokohkan bangunan Islam itu sendiri. Kedua tugas ini saling berhubungan satu sama lain, tidak ada pemisahan dan pengambilan secara parsial (bagian) atas tugas yang satu dari tugas yang lain. Bagaimana tugas pertama menekankan kita untuk sholeh secara pribadi, sedangkan tugas kedua meminta kita untuk sholeh juga secara sosial (baca: dakwah). Kesimpulan yang bisa diambil dari hal diatas bahwa tugas kita (manusia) adalah beribadah dan berdakwah. Tugas yang diberikan pada umat dan generasi pilihan. Dalam suatu dialog antara nabi Ibrahim a.s dengan Allah SWT. Ibrahim a.s berkata “Ya Rabb jadikan aku sebagai Nabi akhir zaman, jika tidak jadikan aku umat akhir zaman, jika tidak jadikan aku sebagai hamba yang disebut-sebut oleh umat akhir zaman”. Sebegitu beruntungkah umat akhir zaman (baca: umat Muhammmad SAW), sehingga Bapak para nabi sangat mengharapkan bisa bersama-sama dengan umat akhir zaman. Sekarang kita yang sekali lagi ditakdir untuk hidup menjadi umat akhir zaman sudahkah menyadari keberuntungan kita? Sudah sejauhmana kita memahami tugas besar kita? Sudah berapa banyak waktu kita untuk menjalankan tugas tersebut? Pertanyaan ini akan kita jawab ketika kita menyadari apa sebenarnya visi hidup kita. Sama halnya ketika kita bekerja dalam suatu perusahan, pastinya perusahan itu punya visi atau tujuan yang ingin dicapai dalam memajukan perusahan tersebut. Begitu juga mestinya dengan kita, apa sebenarnya tujuan hidup kita? Kita mau apa setelah hidup? Jawabnya ada pada diri kita sendiri., dan kita harus tahu... Terakhir.. ada beberapa kalimat yang mungkin bisa kita renungi bersama dalam menjalani hidup ini bahwa.. Hidup ini hanya sekali dan ia tidak ada pengulangannya... Oleh karena itu pergunakan ia dengan sebaik-baiknya.... Penyesalan tidak pernah datang di awal melainkan selalu datang diakhir kejadian...jangan sampai terlambat mengukir catatan sejarah dalam kehidupan fana untuk menjalani kehidupan yang abadi nantinya..... Tidak ada cerita bahwa waktu itu akan berhenti, karena ia akan terus berjalan, dan terus berjalan... karena Sang Pemegang kekekalan waktu bersumpah atasnya........Wallahu’alam. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar